17 juli 2016

Hari ini, saya cukup terkesan dengan malam penghiburan di desa tetangga, yang salah satu pemuda di desa tersebut meninggal akibat dikeroyok oleh, pemuda-pemuda dari desa tetangga. Tapi, bukan tentang kematiannya yang ingin saya bahas_ saya sudah cukup berduka. Malam penghiburan yang diadakan disini, mengingatkan saya dengan kesamaan budaya kami, tapi sayang s’kali, kebudayaan kami sudah lama menghilang. Dari kulihat, malam penghiburan disini benar-benar penuh dengan canda-tawa, dalam hal ini, benar-benar menghibur untuk yang hadir_ jelas bukan untuk keluarga, yah kau tahu. Keluarga yang ditinggal jelas masih dalam keadaan yang tidak bisa dihibur. 

Ketika meniatkan perubahan

31 juli 2016.

Beberapa jam yang lalu, hal yang sangat tidak terduga dan yang selalu ingin saya hindari kembali terjadi, EMOSI yang tidak terkontrol. Pengucapan Syukur atau di Amerika lebih dikenal dengan Thank’s Giving tidak senyaman tahun-tahun sebelumnya untuk saya pribadi. Hari pengucapan syukur dimana semua orang dengan senangnya merayakan sambil keluar rumah, berkunjung ke sanak-saudara hal itu tidak berlaku bagi saya pada thank’s giving kali ini. Saya hanya dirumah tiduran sambil baca buku, main hape, beberapa kali berpindah tempat ke dapur untuk mengisi energi agar bisa kembali melanjutkan aktifitas yang bagi kebanyakan orang merupakan tindakan bodoh di hari Pengucapan syukur. Oke, jadi tepatnya pada sore hari tadi, dimana suhu udara yang sejuk ala pedesaan membuat saya terpancing untuk keluar rumah dan ikut bergabung dalam perayaan tahunan ini. Beberapa rumah berlalu, teman-teman saya sudah terlihat. Berkumpul dengan beberapa orang asing dan ditemani oleh, tentu saja beberapa botol minuman keras, saya pun bergabung. Sebenarnya, saya tidak suka dengan kumpulan-kumpulan semacam ini, kenapa? karena sudah bisa ditebak, pembicaraan yang berlaku sudah sangat tidak asing lagi ditelunga saya. Canda-tawa yang bisa menutupi ketidak tertarikan saya akan percakapan yang sedang berlangsung, tiba-tiba terganggu oleh beberapa kata-kata bernada tinggi, bisa ditebak; akan ada puncak emosi disini. Kemudian, sambil berpura-pura tidak perduli dengan Nada tinggi tersebut, saya melirik arah suara nada tinggi tersebut, sepupu saya_ sebut saja namanya Suep, terlihat sedang membentak satu orang asing didepannya. Beberapa orang termasuk saya mencoba menenangkan sepupu saya ini. Lanjut, saya pun mengalihkan fokus ke salah satu orang disamping saya yang juga masih saudaraan, sial! ternyata semua orang dalam perkumpulan ini saudaraan! Kami bicara soal, kenapa harus ada nada tinggi untuk pembicaraan sepele seperti ini, saya dan dia sama berpendapat jika hal seperti itu jelas tidak bermaanfaat, kontrol emosi tentu diperlukan agar seseorang yang mabuk, tidak akan dikuasai oleh minuman keras yang saya sendiri bukan penggemarnya. Setelah sempat mereda, tanpa diduga, ketegangan tadi berbuah hasil satu bogem dari sepupu saya ke orang asing tersebut. Saya dan beberapa orang ditempat itu mencoba melerai. Melerai dalam hal ini, lebih ke menenangkan sepupu saya suep. Yang coba ditenangkan teratasi, tapi oknum lain_ panggil saja Burce, yang merupakan teman dari orang asing ini, yang juga saudara saya ini_ Nenek kami kakak-adik, mengamuk! Saat itu, saya langsung menahan orang ini. Maksud saya, saya bisa saja membiarkan sepupu saya menghajar orang asing tersebut, tapi kami terlalu berbudaya untuk tindakan bodoh seperti itu. Sepupu saya ini, emosinya ternyata didasarkan pada; beberapa bulan yang lalu, sepupu saya ini nyaris dihajar beberapa pemuda dari desa orang asing tersebut. Beberapa menit berlalu, si Burce tidak mau diam. Mulut terus membacot dengan nada yang jelas bisa berakibat fatal dalam keadaan seperti ini. Melihat tingkah Burce, sayapun berinisiatif menenangkannya tapi sial, orangnya benar-benar keras kepala, akhirnya emosi yang sayapun hanyut oleh iblis hitam yang saya yakini, pasti tertawa terbahak-bahak saat itu. Saya hajar si Burce ini, tetap gak mo diam, saya ditahan sama orang-orang sekitar, sebisa mungkin dijauhkan dari si Burce ini, tapi karena kombinasi gesit dan emosi, saya kembali melepaskan beberapa pukulan yang jelas di bagian kepala. Orangnya bukan tanpa perlawanan, dia masih sempat membalas meskipun saya sendiri tidak kenapa bisa ada pukulan selemah itu. Beberapa pukulan saya langsung berbuah lebam di beberapa bagian wajahnya dan herannya, orang ini benar-benar berbakat dalam memprovokasi. Seperti tidak puas dan minta dihajar lagi, dia terus saja memancing orang agar murka. Saat itu, saya jelas sudah tidak berdaya karena ditahan oleh beberapa Tante saya yang rumahnya tidak jauh dari lokasi. Saudara saya yang lain_ just call him Narto, ikut mengamuk, tapi kali ini saya yakin karena kesal dengan tingkah si Burce ini yang benar-benar tidak bisa ditenangkan. Akhirnya, dia kembali harus dihajar oleh si Narto yang kebetulan orangnya kekar. Sebenarnya, saya jadi kasihan dengan si Burce ini, karena setelah Narto berhenti menghajarnya, Kakak Saya James yang baru tiba, dia bertanya pada saya apa yang terjadi_ lebih ke sifat melindungi, saya bilangnya tidak ada apa-apa. Saya bicara seperti itu karena sebenarnya saya lebih takut jika kakak saya ini yang mengamuk. Tanpa mengindahkan kata-kata saya, James pun langsung mengejar Burce yang tengah ditarik pulang oleh beberapa orang tapi dengan mulutnya yang benar-benar mengesalkan. Dan bisa ditebak, dia kembali dihajar kakak saya James. Dan saat menulis ini, ada kekecewaan dihati saya. Bukan karena si Burce, melainkan betapa saya masih harus banyak belajar tentang pengendalian emosi. Dalam kasus tersebut, saya merasa, si Burce ini terus-terusan dihajar karena emosi saya yang sebelumnya. Seandainya saja saya memberikan respon yang berbeda dengan kata-kata si Burce yang saat itu terdengar mencoba menantang saya, mungkin keadaannya akan berbeda. Benar-benar bodoh!

Aku kembali berpikir tentang uniknya kita, manusia. Kita tercipta, menorehkan sejarah kemudian berlalu. Dalam garis waktu, apapun sejarah yang kita ciptakan pasti akan diingat oleh sesama kita, baik ataupun buruk. hal yang sangat membahagiakan ketika kita dilahirkan. Dan sebaliknya ketika kita ‘berakhir’. Catatan tersebut, adalah hal yang ditakdirkan atau ditulis sendiri? Aku bertanya-tanya tentang kebebasan kita sebagai makhluk hidup. Jika itu takdir, bukankah oleh sang pencipt kita telah diberi kebebasan untuk ‘menjalani’ hidup? Baik, jika hal tersebut bukan takdir, bagaimana dengan kematian, bukankah secara umum kita tidak menginginkannya? Mungkin kita menginginkannya tapi hany disaat kita berada dalam keadaan yang tidak kita inginkan?

Wake me up, when this month end’s… 

Juni 7, 2016.

Hari ini, warna lain dari roda kehidupan kembali bergulir. Ayahku, dipanggil Tuhan, dan aku tidak berada disisinya saat hal tsb terjadi. Aku tahu, manusia akan mengalami hal tersebut. dan hari ini, ayahku pergi. Aku mengingat banyak hal bersama ayahku. Saat aku belum bisa membaca, aku mendekati ayahku yang sedang membaca.Beliau mengerti, aku ingin tahu apa yang sedang dibacanya. Beliau akan memperdengarkan apa yang sedang dibacanya, sampai akhirnya aku tertidur. Ayah seorang yang jika saman s’karang itu sebutannya kutu buku, hal yang juga menjangkitiku. Ayah sangat suka membaca segala bentuk tulisan. Dulu sekali, masih ku ingat betul beliau akan membaca buku-buku yang kubawa dari sekolah, buku apapun itu. Majalah&surat kabar pun tak luput. Ayah akan membacanya berulang-ulang jika tidak ada yang lain lagi yang bisa dibacanya. Semenjak sakit, aktifitas ayah yang sangat terbatas membuatku sering membawakannya buku. Tapi sayang, kata beliau buku-buku yang saya bawa tulisannya terlalu kecil-kecil. Aku tidak sempat membelikan ayah kacamata agar dia bisa membaca buku yang kubawakan untuknya. Kasihan ayah. Aku juga ingat, saat akan tidur kepalaku harus berada di dekat perut beliau. Kami dekat. Aku sedih, sekaligus bersyukur. Aku sedih harus kehilangan seorang ayah. Disisi lain, sakit ayah sudah cukup lama. Tuhan, apa yang kau buat itu baik adanya. Saat ini, aku sedang membayangkan ibu, Beliau pasti sangat terpukul. Aku tahu betul betapa ibu sangat mencintai ayah saya. aku belum ada disana, untuk menghiburnya. Tuhan, berikan untuk kami penghiburan sejati, terutama ibu.
#lanjut. Kasihan ibu. Aku sudah sering melihat ibu sedih, tapi tidak pernah seperti s’karang ini. Ibu menangis sejadinya, aku bingung harus apa. Aku juga sangat sedih, aku terus menangis. Aku ingat kebiasaan ayah yang selalu menegurku bila kedapatan tidur buka baju. Dia terus mengingatkan bahwa hal itu tidak baik. Aku merasa sangat bersalah, jika malam itu aku langsung meluncur ke amurang, mungkin aku sempat berbicara dengan beliau. Beberapa minggu sebelumnya ibu bilang, beliau sering bertanya kenapa aku jarang pulang. S’karang, tidak akan pernah ada lagi percakapan diantara kami. 

saat ini, ku hanya bisa berharap bisa bertemu di yerusalem baru.

#lanjut. Ah, ayahku seperti tersenyum. Aku berbicara dengan ibu. Kata ibu, ayahku terlihat senang mendengar aku akan segera menemuinya, saat mendengar kabar beliau sedang sakit. sayang, aku tak sempat berbicara dengannya. Hal yang sangat kusesali. Beberapa menit sebelum meninggal ayah mengucapkan beberapa kata. “Sudah Ni. somo mati qt. Haleluyah… haleluyah…” begitu kira-kira bunyi kalimat ayah yang artinya “sudah Ni(nama ibu saya Yeni, disingkat Ni’) sudah saatnya saya pergi. Haleluyah… haleluyah…” kata ibu, ayah terlihat/terdengar bahagia dengan yang akan menimpanya, beliau sudah tahu dan siap. Tak lama kemudian, beliau meninggal. Hal tersebut juga membuatku tersenyum. Sepertinya aku harus bertanya pada Tuhan, dimana ayahku s’karang? Karena aku yakin, kami akan bertemu di Yerusalem baru nanti. Aku tahu banyak tentang pertarungan ayahku dalam mempertahankan pertobatannya. Ayahku seorang peminum alkohol(sudah tidak lagi), perokok(sudah tidak lagi), pemarah:sangat pemarah(sudah tidak lagi). Tapi semenjak memutuskan bertobat, ayahku berubah 180°. Aku harap kerohanian Ayah dengan sang juru s’lamat Yesus Kristus bisa ku tiru, dalam hal ini belajar dari ayah. Ketika ayah sakit, dia berubah total. Saya harap itu perubahan yang Tuhan berikan.

dari sekian banyak hal yang sangat menginspirasi dari ayah adalah; ketika ayah mampu berhenti dari candu rokok&minuman keras, serta meningkatkan kehidupan rohaninya. Waktu itu, saat tahu beliau bisa berhenti dari kebiasaan buruk tsb, aku kaget sekaligus kagum. Saat ini aku sedang berjuang mengikuti jejak ayah. Meskipub ini kegagalan ketiga yang harus terjadi, tapi tetap tak akan melunturkan niatku untuk mengikuti jejak beliau. Ayah… aku bangga menjadi anakmu. Aku harap aku bisa menjadi teladan bagi anak-anak ku nanti, seperti yang kau tunjukan. Ayah, aku yakin kau di Yerusalem baru s’karang. Aku akan berusaha untuk bertemu lagi kelak.

#lanjut. Aku benar-benar tidak sanggup melihat wajah ayahku. Aku terus menangis. kesedihan ini benar-benar memilukan. Aku hanya bisa memeluk ibuku. Aku tidak sanggup memeluk ayahku dalam keadaan seperti ini. mendengar cerita ibu sewaktu di rs. Ibu bilang, ayahku terus bercerita. Beliau bahkan tidak tidur. Sempat beliau bernyanyi, yang sebagian kata-kata yang ditangkap ibu adalah “s’karang qt so rasa, itu Tuhan pe bae,” artinya; “s’karang sudah saya rasakan, kebaikan Tuhan,”. Kutipan tersebut mengingatkan saya pada salah satu ayat alkitab  dalam Filipi 1:21  “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Saya sedang berpikir, jika Ayah saya bersukacita dalam keadaannya tsb. 

  1. #lanjut. tangis kami semua pecah, tapi ibu dan adik ku tirsa yang paling jelas. Benar-benar memilukan. Aku benar-benar tidak menginginkan suasana seperti ini, tidak ada yang ingin. Adik ku dalam tangis pilunya menyuruh ibu agar membangunkan ayah. kasian adik ku, tenyum

#lanjut. Dalam dukacita kami yang dalam. Aku bersyukur, ada penghiburan yang Tuhan titipkan lewat warga kampung ranoako. Mereka terus bernyanyi dengan petikan gitar. Sejujurnya, itu tidak membantu dalam duka ini. Tapi paling tidak ada keramain yang hadir yang mengingatkanku, kalau dalam dukacita Tuhan menyediakan penghiburan dalam berbagai segi. Malam ini dan sampai pada mingguan mereka akan terus ada disini setiap malamnya, bernyanyi dan memperdengarkan tawa untuk menghibur kami. Tuhan, t’rimakasih untuk mereka.

#lanjut. Juni 8, 2018 Pkl 05:33 pagi. Aku terbangun, kaka ku james mengoncang tubuhku. Membangunkan tidur sejenak ku yang memang sangat capek. Aku dan ibuku, menghadap tubuh ayah dalam peti yang tentu saja terbaring kaku. Di sekitar kami ada kerabat dan teman-teman Ayah. Ibu kembali menangis, aku sedih mendengarnya yang memang sangat terpukul. Aku mencoba menghibur beliau dengan mengusab pundaknya. hal tsb tidak banyak membantu, tangis pilu ibu membuat ku nyaris ikut menangis tapi kutahan agar suasana tidak semakin sedih. Beberapa saat kemudian keponakan ku Yael, terbangun. Dia mendekati ibu, beberapa saat kemudian dia ngomong “mama, jangan menangis.” Keponakan saya memang memanggil mama pada ibu saya, neneknya. Suasana sedih ini benar-benar ingin saya hindari. Satu jam berlalu, saat saya ingin kembali beristirahat karena memang sebelumnya saya cukup lelah, hanya tidur sekitar 3jam. Saya kaget, di sekitar kami seseorang memutar lagu ayah dengan sangat keras dengan berulang-ulang. Saya menjadi sangat sedih mendengar lagu tsb, sekaligus terhibur. Mereka mencoba mengerti duka yang sedang kami alami. 

#lanjut. Pkl 03:40 sore hari yang sama. Disinilah puncak isak tangis seluruh keluarga, khususnya Ibu, Tirsa, aku dan James. Peti akan segera ditutup. Kami menangis tak karuan, adik ku bahkan meneriaki ayah agar bangun karena ayah akan segera ditutup rapat. Aku juga, aku berteriak bahkan rasanya teriakanku yang paling keras, Ayah bangun! Ayah! Kemudian Oma kami yang juga adalah hamba Tuhan mencoba menghibur kami. Katanya kami semua harus yakin bahwa Ayah kami mati di dalam Tuhan. Jika kami terus menangisinya itu akan membuat beliau sedih. Begitu kira-kira kata-kata dari oma. Ibu berhenti menangis, adik ku mencoba menahan. Aku yang memeluk ibu mencoba untuk berpikir, bahwa hal yang terjadi pada ayah adalah yang terbaik dari Tuhan. Hal tersebut berhasil, Aku sedikit terhenti, meskipun sesekali masih mengeluarkan suara tangis keras. Akhirnya, para pemikul peti bersiap. Hening cipta dan… perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhir. Ibu dan adik ku tidak di ijinkan ikut oleh sanak-saudara kami. Kebetulan memang cuaca sangat panas. Mereka takut jika nanti ibu pingsan di jalan. Sementara adik ku, tidak di ijinkan ikut karena adik bayinya yang baru beberapa bulan tidak boleh ditinggal. menurut mereka ke kuburan nanti saja, kalau matahari sudah tidak terlalu terik. Akhirnya, semua yang ikut dalam prosesi pemakaman sampai. Ada keluarga dari keluarga ayah&ibu. Teman-teman ayah, teman ku, teman-teman James dan masyarakat. pikiran ku kembali berputar. Bagaimana jika ayah mengetuk dari dalam peti! Bagaimana jika ayah hidup kembali! Ah, ayah… Akhirnya, semua proses selesai. beberapa saat mereka pergi, kaka ku juga. tinggal aku sendiri. Aku mengambil segenggam tanah, kuletakan di atas kubur ayah. Aku berdoa; Tuhan… berikan kekuatan serta penghiburan sejati untuk kami semua terutama Ibu. Tuhan, aku ingin tahu dimana ayahku sekarang. Ku mohon berikan penglihatan pada ku, agar kiranya aku yakin tentang perjuangan ayah tidak sia-sia. 

#lanjut. pukul 11:33 malam, hari yang sama. seperti biasa, insomnia ku kambuh lagi. Aku tidak bisa tidur, aku mencoba mengisi waktu insomnia ku dengan ‘mencetak’ baru percobaan Novel yang tidak kunjung selesai. Setelah lelah memfokuskan mata pada layar hp. Aku pun menuju kamar untuk mencoba tidur. Malam ini aku tidur bersama ibu dan ke 2 ponakan ku. Akhirnya, dalam kesunyian aku mulai mengali lagi kenangan-kenangan bersama Ayah dan hasilnya aku menangis seorang diri saat seisi rumah tertidur pulas setelah bergelut dalam duka yang dalam sepenjang hari tadi. Mula-mula ku coba mengginggat tempat-tempat yang sangat identik dengan beliau, dan tentu saja kebun kami tercinta, kebanggaan Ayah yang merupakan warisan dari kakek. Beliau bangga bukan karena luas dan suburnya tanah tersebut. Ayah bangga karena saat diwariskan dari ayahnya, kakek ku, tanah tersebut kosong. aku tahu betul sejarah tanah tersebut dari cerita Ayah dan Ibu. Ayah merupakan petani yang minta ampun rajinnya! Saat masih bisanya ayah kerja, aku ingat betul cara Ayah dalam bekerja. Beliau type orang yang Rajin dan tekun dalam menjadi seorang petani! setelah dewasa aku jadi bingung. Kenapa? Karena, bagaimana bisa Ayah yang type orang ‘petani jaman dulu’ bisa memiliki hobi membaca! Di dagau milik Ayah ada begitu banyak koran, majalah, dan buku seperti yang sudah ku tulis sebelumnya. Ayah mengolah tanah tersebut kurang lebih, 20 tahunan mungkin. Hasilnya; s’karang tanah tersebut menjadi cukup terkenal di desa kami karena hasil buminya seperti kelapa dan pohon aren. Belum lagi jika ditanami jagung, cabe, singkong dll. Bukan itu saja, beternak pun sangat cocok di tempat tersebut. Posisinya yang berada di pinggiran sungai besar(sungai ranoako) membuatnya bisa memenuhi kebutuhan ternak seperti sapi&ayam(ternak paling umum di desa kamI) dengan sangat memuaskan. Ayah ku juga type orang pencinta ternak. Seperti kebanyakan petani jaman dulu, ayah punya sapi yang tanpa melebih-lebihkan Sapi ayah benar-benar terkenal di kampung kami! Sapi kami yang paling terkenal itu namanya putra. Sapi jantan yang gedenya minta ampun dan sangat enak dipandang! Ayah itu sangat ahli dalam mengurus sapi. aku rasa, hal tersebut juga ada dalam DNA ku. sapi yang ayah pelihara selain sehat, juga kuat dipake buat Roda Sapi. Kemudian, ada sapi ayah yang lain namanya Angka dan Rok. Itu sepasang sapi jantan dan betina. Masih ada sapi-sapi yang lain tapi lupa namanya. Tapi ada yang paling ku suka, ada sapi jantan yang kalau lagi berhenti makan sering aku tunggangi. Sapinya gak galak, emang sih kebanyakan sapi peliharaan Ayah gak galak. Mungkin karena cara ayah mengurus mereka yang membuat mereka tidak galak. Kasihan Ayah 😥 padahal, aku berencana membeli kembali sapi dan aku ingin ayah yang merawatnya karena aku tahu betul betapa ayah sangat suka sapi. Aku bisa membeli sapi sebelum ini, tapi aku type lebih mementingkan diri sendiri. Aku menyesal.

(Ternyata, ibu belum tidur. Saat menulis ini di luar kamar, ibu menangis lagi. Kasian ibu.)

Aku harus benar-benar berubah. Sudah ku putuskan mengikuti jejak ayah, menjadi petani. Aku yakin, dengan kombinasi DNA ayah dan ibu, aku bisa sukses dalam bertani. Kembali ke Ayah. ayah petani gula aren yang ulet. Sepulang sekolah, ibu akan menyuruhku mengantar bekal ayah. Sebanarnya aku paling males kalo disuruh Mengantar bekal(tentu saja, saat itu aku belum mengerti) di tempat ayah. Sesampai di porno(sebutan untuk tempat mengolah air nira menjadi gula aren), aku langsung mencari sendok dan mangkuk yang terbuat dari batok kelapa, buat apalagi kalau bukan buat minum madu gula arena hehehehe dan sangat sering ayah sudah menyiapkan bete dalam madu nira. Itu rasanya benar-benar delicious! i swear! setelah beberapa jam kemudian madu nira tersebut diangkat kemudian oleh ayah, kadang aku ingin mencoba, tapi oleh beliau tidak di ijinkan. Alasan keselamatan, tentu saja. Jadi aku hanya bisa dengan sendok, jongkok di dekat wajan raksasa(wajan parabola), sambil sesekali mengambil madu nira kental tersebut dengan sendok, enak! Tapi jangan salah, gak semudah itu juga ngambil madu pake sendok. ada batasannya. Jika kebanyakan ayah akan marah, “dari masih madu biasa, madu kental sampe ini somo jadi gula nn nda brenti! Stop, mo dapa panyaki guka nn!” Kali ini alasan kesehatan, tentu saja. Aku ingat juga ingat, saat mengecek bekal tidak ada sayurnya, beliau akan marah! Kemudian, ayah akan menyuruhku mencari sayur paku/boloho(sejenis pakis yang bisa dimakan), dan daun pepaya muda. Kemudian ayah akan beralih mode menjadi chef hehehehe masakan ayah juga enak, ada ciri khususnya! saya ingat betul rasanya bahkan setelah terakhir makan… entahlah, 7-8 tahun yang lalu mungkin. Setelah diaduk kurang lebih 1 jam, madu tersebut berubah menjadi gula merah(gula aren). Kasian sebenarnya ayah waktu itu, bekerja sendiri. Hanya beristirahat jurang lebih 2 jam, pekerjaan yang jujur saja sangat berat harus dilanjutkan kembali. Ayah harus batifar(memanen air nira). Aku kadang membantuny dengan mencari kayu bakar, tapi tidak seberapa. Aku masih terlalu kecil. Aku ingat betul dulu, setelah pekerjaannya sebagai petani gula aren selesai, beliau akan mengajak ku mandi di sungai. Itu salah satu hal yang paling ku sukai! Secara, waktu itu setelah kakak ku james merantau, aku tidak di ijinkan mandi di sungai sendiri. demi keselamatan, begitu menurut ayah. Tentu saja. Dan moment yang benar-benar paling menyenangkan bahkan sampai saat ini tiba juga, guess what? Tentu saja, naik Roda Sapi!!! Jaman aku anak-anak, itu benar-benar saat paling membahagiakan, membanggakan dan paling dinanti!!! Apalagi pas tali sapi(tali kontrol)nya di kasih ayah biar aku yang nyetir, gila!!! Itu deg-degannya minta ampun. Kemudian, ayah akan ada di samping memperhatikan setiap apa yang kulakukan dengan tali tsb. Meskipun saat medannya sulit ayah kembali mengambil alih kemudi tapi tetap saja, aku puas. Oh Ayah, kapan lagi bisa naik roda sapi bersamamu 😥 

#lanjut. JUNI 09, 2016 PKL 07:48 PAGI. Kami bertiga, Ibu, aku dan James berkunjung ke makam Ayah. ibu duluan dengan diantar tetangga kami. Saat aku dan james sampai ibu sedang menangis… ah ibu. Aku cepat-cepat menghampiri beliau, mencoba menenangkannya. Setelah beberapa saat, akhirnya ibu berhenti menangis dan mulai bercerita jika semalam adik ku bermimpi. Dalam mimpinya, adik ku melihat Ayah sedang menggenggam Alkitab. Baru saja ayah akan membacanya, dia sudah dibangunkan. kurasa, Tuhan sudah menjawab permintaanku. Kami pun berlalu, meninggalkan makam Ayah. Di perjalanan kami terus membincangkan beliau sambik sesekali kami teralihkan ke pemandangan sepanjang jalan pulang seperti pisang di pinggir jalan yang berbuah 2 sekaligus 

 Salah bentuk keindahan alam yang Tuhan telah sediakan untuk kami nikmati.

#lnjut. 07:22, hari yang sama. Saat ini malam ketiga. Seperti sebelumnya, di tanah minahasa ada istilah ‘Malam penghiburan’ untuk keluarga yang berduka. Malam ini, aku tidak menyangka. Malam penghiburan yang tengah berlangsung itu untuk kami yang kehilangan Ayah 😥 puji-pujian demi puji-puji berkumandang. Mulai dari Kaum Bapa, Kolom, kaum Ibu, pemuda&remaja serta sekolah minggu.Dalam puji-pujian tadi, ada nyanyian “Hatiku percaya” yang dibawakan oleh Pemuda&Remaja serta Anak sekolah minggu itu yang kusukai. Mereka terdengar begitu tulus saat menyanyikannya. Dan yang terakhir adalah kami sendiri sekeluarga. Bernyanyi untuk mereka yang telah mencoba memberi penghiburan bagi kami.

#lanjut, Pkl 10:19 hari yang sama. setelah acara malam penghiburan selesai para teman-teman dan beberapa sanak-saudara Ayah yang lain mulai berdatangan. Mereka berkumpul kemudian bernyanyi rohani dalam bahasa tonsawang, bahasa kami orang tombatu/touluaan. terimakasih untuk kedatangan kalian di rumah kami.

Lanjut, 14 juli 2016. It’s a long day, without you my dad. 

saat mendengar Ayah terbaring di ruang icu, aku langsung berdoa; Tuhan, apa Kau buat itu baik. aku juga memposting hal serupa di akun facebook milik ku. Aku menelpon ibu, ibu meminta aku datang. Katanya  hal tsb membuat Ayah senang. Saat itu sekitar jam 09 malam, tgl 7 juni 2016. Aku bilang pada ibu, aku akan ke sana besok paginya. Esoknya dalam setengah tidur, aku terbangun saat mendengar teman sekamar kost ku berbicara pada teman yang lain bahwa Ayahku meninggal. Aku menegurnya; kamu bicara apa??! Tentu saja aku tidak suka dia berbicara seperti itu. Kemudian, dia mengulagi kata-katanya tapi s’karang secara jelas bicara padaku. “Ayahmu meninggak Mel…” aku langsung bangun, tapi aku tidak menggubris kata-katanya. Aku berpikir, orang ini pasti salah membaca sms. Aku merampas hp milik ku yang digenggamnya. Ku lihat 5 panggilan tidak terjawab, aku langsung deg-degan. Tapi aku tetap berpikir, Ayah ku tidak mungkin meninggal! Ku buka kotak masuk dan, sms dari James kaka ku; Pulang sekarang, Ayah meninggal. Aku langsung lemas. Pikiran ku benar-benar kacau. Ku coba menghirup udara sebanyak mungkin agar dengup cepat jantungku menjadi normal dan agar ku bisa berpikir jernih. Ku cari opsi jawaban lain dari sms tersebut, ayah ku hanya anfal dan James mengira Ayah meninggal. opsi lain; James salah mengetik sms. Pokoknya, Ayahku tidak boleh meninggal! Saat sedang membaca sms tersebut sms lain masuk, dari Tirsa adk ku. “Pulang jo, jang nanti kalo papa so nda ada!”. Tuh kan! Pasti kaks ku salah dalam sms miliknya. Tapi kenapa ada 5 panggilan tidak terjawab? Ah, ayah… aku benar-benar harus meminta maaf nanti karena jarang menemui mu. Dari manado secepat mungkin aku meluncur ke Amurang dan akhirnya sampai di Desa ku tercinta, aku bermaksud memberhentikan ojek yang ku sewa sedikit lebih jauh dari kompleks rumah kami, tapi terlambat. pemandangan di sekitar rumah kami membuat ku pikiran ku berkecamuk! Tuhan, bukankah apa yang Kau buat itu baik! Kenapa Ayahku??! Ku mohon, jangan ambil ayahku… setelah beberapa jam di rumah, kembali kubertanya, Tuhan kenapa? Kemudian ibu menceritakan saat-saat Ayah meninggal. menurut cerita ibu, Ayah meninggal dalam keadaan sudah siap, beliau tahu dan dia seakan penuh sukacita akan hal yang menimpanya. Saya pun langsung mencoba mengolah hal tersebut. aku ingat perjuangan ayah dalam pertobatan, jika hal ini benar maka yang terjadi pada Ayah adalah memang yang terbaik dari Tuhan. Saat berdoa dan menulis s’tatus facebook, ternyata aku meminta dan bukan menginginkan kehendak Tuhan. Kemudian aku bisa mem-flashback sejenak. Beberapa bulan yang lalu, selama hampir satu bulan aku berdoa; Tuhan… aku mohon, untuk keselamatan keluarga ku. Ku mohon Tuhan, Kau tahu yang mereka perlukan yaitu keselamatan dari-Mu. aku mohon Tuhan, jika nanti mereka pergi bawa mereka pada kehidupan kekal bersama-Mu di Yerusalem baru. Kini, aku mengerti. Tuhan menjawab doa ku yang sebelumnya karena memang itulah yang paling ku inginkan dan Ayah butuhkan. Aku sempat protes ketika Tuhan memanggil Ayah, tapi kini ku mengerti. Tuhan tahu yang terbaik, Tuhan membuat segala sesuatu indah… indah bahkan pada yang tidak bisa ku bayangkan. T’rimakasih Tuhan Yesus…