Wake me up, when this month end’s… 

Juni 7, 2016.

Hari ini, warna lain dari roda kehidupan kembali bergulir. Ayah saya dipanggil Tuhan, dan saya tidak berada disisinya saat hal tsb terjadi_ menyedihkan! mengingat waktu itu, ibu saya bilang jika beliau sempat menanyakan tentang saya, beliau ingin bertemu dan…
Saya sadar, manusia akan mengalami hal tersebut. Dan hari ini, tugas Ayah saya sudah selesai. Saya mengingat banyak hal bersama beliau. Jadi dulu sekali, saat saya belum bisa membaca tapi begitu tertarik dengan buku, saya akan mendekat ke sisi beliau jika ia sedang membaca. Dan yang membuat hal tersebut begitu menyenangkan adalah beliau paham, saya ingin tahu apa yang sedang dibacanya jadi beliau akan memperdengarkan setiap uraian kata yang ada sampai akhirnya saya tertidur. Ayah seorang yang jika saman s’karang itu sebutannya kutu buku, hal yang juga menular pada diri saya. Ayah sangat suka membaca segala bentuk tulisan_ Majalah&surat kabar pun tak luput. Dulu sekali, masih teringat betul, beliau akan membaca buku-buku yang saya bawa dari sekolah, buku apapun itu. Ayah akan membacanya berulang-ulang jika tidak ada yang lain lagi yang bisa beliau baca. Semenjak sakit, aktifitas ayah yang sangat terbatas membuat saya sering membawakan beliau buku tapi sayang, kata beliau buku-buku yang saya bawa itu tulisannya terlalu kecil-kecil. Saya yang begitu sibuk dengan pekerjaan tidak sempat membelikan ayah kacamata agar beliau bisa membaca buku yang saya bawakan untuknya. Kasihan ayah. Saya juga ingat, dulu sekali, saya sangat suka tidur dekat beliau kemudian saya akan menempelkan kepala saya di perut beliau, kami sangat dekat. Saya sangat sedih sekaligus beryukur. Saya kehilangan seorang ayah. Disisi lain, sakit ayah sudah cukup lama. Tuhan, apa yang kau buat itu baik adanya. Saat ini, saya sedang membayangkan ibu, Beliau pasti sangat terpukul. saya tahu betul betapa ibu sangat mencintai ayah saya. Saya belum ada disana, untuk menghiburnya. Tuhan, berikan untuk kami penghiburan sejati, terutama ibu.
#Kasihan ibu. Sering sudah sering melihat ibu sedih, tapi tidak pernah seperti s’karang ini. Ibu menangis sejadinya, saya bingung harus apa. saya juga sangat sedih, saya hanya terus menangis. Sayaaa ingat kebiasaan ayah, bila kedapatan saya tidur buka baju, beliau akan marah. Dia terus mengingatkan saya bahwa hal itu tidak baik untuk kesehatan.
Merasa sangat bersalah, jika malam itu saya langsung meluncur ke rs, mungkin masih sempat berbicara dengan beliau. Beberapa minggu sebelumnya ibu bilang, beliau sering bertanya kenapa saya jarang pulang. S’karang, tidak akan pernah ada lagi percakapan diantara kami.

saat ini, ku hanya bisa berharap, kami bisa bertemu di yerusalem baru.

#Ah, ayah seperti tersenyum, seakan-akan beliau sedang menutup mata sambil tersenbyum. Saya bicara dengan ibu. Kata ibu, ayah terlihat senang mendengar saya akan segera menemuinya, saat mendengar kabar beliau sedang sakit. sayang, saya tak sempat berbicara dengannya. Hal yang sangat saya sesali. Beberapa menit sebelum meninggal ayah mengucapkan beberapa kata. “Sudah Ni. somo mati qt. Haleluyah… haleluyah…” begitu kira-kira bunyi kalimat ayah yang artinya “sudah Ni(nama ibu saya Yeni, disingkat Ni’) sudah saatnya saya pergi. Haleluyah… haleluyah…” kata ibu, ayah terlihat/terdengar bahagia dengan yang akan menimpanya, beliau sudah tahu dan siap. Tak lama kemudian, beliau meninggal. Hal tersebut juga membuat saya tersenyum. Sepertinya saya harus bertanya pada Tuhan, dimana ayah s’karang? Karena saya yakin, kami akan bertemu di Yerusalem baru nanti. saya tahu banyak tentang pertarungan ayah dalam mempertahankan pertobatannya. Ayah seorang peminum alkohol(sudah tidak lagi), perokok(sudah tidak lagi), pemarah:sangat pemarah(sudah tidak lagi). Tapi semenjak memutuskan bertobat, ayah berubah 180°. Saya harap kerohanian Ayah dengan sang juru s’lamat Yesus Kristus bisa saya tiru, dalam hal ini belajar dari ayah. Ketika ayah sakit, dia berubah total. Saya harap itu perubahan yang Tuhan berikan.

Dari sekian banyak hal yang sangat menginspirasi dari ayah adalah; ketika ayah mampu berhenti dari candu rokok&minuman keras, serta meningkatkan kehidupan rohaninya. Waktu itu, saat tahu beliau bisa berhenti dari kebiasaan buruk tsb, saya kaget sekaligus kagum. Saat ini saya sedang berjuang mengikuti jejak ayah. Meskipun ini kegagalan ketiga yang harus terjadi, tapi tetap tak akan melunturkan niat saya untuk mengikuti jejak beliau. Ayah… saya bangga menjadi anakmu. saya harap, saya bisa menjadi teladan bagi anak-anak saya nanti, seperti yang kau tunjukan. Ayah, saya yakin kau di Yerusalem baru s’karang. saya akan berusaha untuk bertemu lagi kelak.

# Saya benar-benar tidak sanggup melihat wajah ayah. Saya terus menangis. kesedihan ini benar-benar memilukan. Saya hanya bisa memeluk ibu. saya tidak sanggup memeluk ayah dalam keadaan seperti ini. mendengar cerita ibu sewaktu di rs. Ibu bilang, ayah terus bercerita. Beliau bahkan tidak tidur. Sempat beliau bernyanyi, yang sebagian kata-kata yang ditangkap ibu adalah “s’karang qt so rasa, itu Tuhan pe bae,” artinya; “s’karang sudah saya rasakan, kebaikan Tuhan,”. Kutipan tersebut mengingatkan saya pada salah satu ayat alkitab  dalam Filipi 1:21  “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Saya sedang berpikir, jika Ayah saya bersukacita dalam keadaannya tsb

# tangis kami semua pecah, tapi ibu dan adik saya tirsa yang paling jelas. Benar-benar memilukan. saya benar-benar tidak menginginkan suasana seperti ini, tidak ada yang ingin. Tirsa dalam tangis pilunya menyuruh ibu agar membangunkan ayah. kasian adik saya.

# Dalam dukacita kami yang dalam. Sayaaa bersyukur, ada penghiburan yang Tuhan titipkan lewat warga kampung ranoako. Mereka terus bernyanyi dengan petikan gitar. Sejujurnya, itu tidak membantu dalam duka ini. Tapi paling tidak ada keramain yang hadir yang mengingatkanku, kalau dalam dukacita Tuhan menyediakan penghiburan dalam berbagai segi. Malam ini dan sampai pada mingguan mereka akan terus ada disini setiap malamnya, bernyanyi dan memperdengarkan tawa untuk menghibur kami. Tuhan, t’rimakasih untuk mereka.

#Juni 8, 2016 Pkl 05:33 pagi. Saya terbangun, kaka saya james mengoncang tubuhku. Membangunkan tidur sejenak ku yang memang sangat capek. saya dan ibu, menghadap tubuh ayah dalam peti yang tentu saja terbaring kaku. Di sekitar kami ada kerabat dan teman-teman Ayah. Ibu kembali menangis, sedih mendengarnya yang memang sangat terpukul. sayaa mencoba menghibur beliau dengan mengusab pundaknya. hal tsb tidak banyak membantu, tangis pilu ibu membuat saya nyaris ikut menangis tapi saya tahan agar suasana tidak semakin sedih. Beberapa saat kemudian keponakan saya Yael, terbangun. Dia mendekati ibu, beberapa saat kemudian dia ngomong “mama, jangan menangis.” Keponakan saya memang memanggil mama pada ibu saya, neneknya. Suasana sedih ini benar-benar ingin saya hindari. Satu jam berlalu, saat saya ingin kembali beristirahat karena memang sebelumnya saya cukup lelah, hanya tidur sekitar 3jam. Saya kaget, di sekitar kami seseorang memutar lagu ayah dengan sangat keras dengan berulang-ulang. Saya menjadi sangat sedih mendengar lagu tsb, sekaligus terhibur. Mereka mencoba mengerti duka yang sedang kami alami.

#Pkl 03:40 sore hari yang sama. Disinilah puncak isak tangis seluruh keluarga, khususnya Ibu, Tirsa, saya dan James. Peti akan segera ditutup. Kami menangis tak karuan, adik saya bahkan meneriaki ayah agar bangun karena peti akan segera ditutup rapat. saya juga, saya berteriak bahkan rasanya teriakan saya yang paling keras, Ayah bangun! Ayah! Kemudian Oma kami yang juga adalah hamba Tuhan mencoba menghibur kami. Katanya kami semua harus yakin bahwa Ayah kami mati di dalam Tuhan. Jika kami terus menangisinya itu akan membuat beliau sedih. Begitu kira-kira kata-kata dari oma. Ibu berhenti menangis, adik saya mencoba menahan. saya yang memeluk ibu mencoba untuk berpikir, bahwa hal yang terjadi pada ayah adalah yang terbaik dari Tuhan. Hal tersebut berhasil, tangis saya sedikit tertahan, meskipun sesekali masih mengeluarkan suara tangis keras. Akhirnya, para pemikul peti bersiap. Hening cipta dan… perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhir. Ibu dan tirsa tidak di ijinkan ikut oleh sanak-saudara kami. Kebetulan memang cuaca sangat panas. Mereka takut jika nanti ibu pingsan di jalan. Sementara tirsa, tidak di ijinkan ikut karena bayinya yang baru beberapa bulan tidak boleh ditinggal. menurut mereka ke kuburan nanti saja, kalau matahari sudah tidak terlalu terik. Akhirnya, semua yang ikut dalam prosesi pemakaman sampai. Ada keluarga dari keluarga ayah&ibu. Teman-teman ayah, teman-teman, teman-teman James dan masyarakat. pikiran saya kembali berputar. Bagaimana jika ayah mengetuk dari dalam peti! Bagaimana jika ayah hidup kembali! Ah, ayah… Akhirnya, semua proses selesai. beberapa saat mereka pergi, kaka juga. tinggal saya sendiri. Saya ambil segenggam tanah, saya letakan di atas kubur ayah. saya berdoa; Tuhan… berikan kekuatan serta penghiburan sejati untuk kami semua terutama Ibu. Tuhan, saya ingin tahu dimana ayah berada sekarang. saya  mohon berikan penglihatan pada ku, agar kiranya aku yakin tentang perjuangan ayah tidak sia-sia.

#lanjut. pukul 11:33 malam, hari yang sama. seperti biasa, insomnia ku kambuh lagi. Aku tidak bisa tidur, aku mencoba mengisi waktu insomnia ku dengan ‘mencetak’ baru percobaan Novel yang tidak kunjung selesai. Setelah lelah memfokuskan mata pada layar hp. Aku pun menuju kamar untuk mencoba tidur. Malam ini aku tidur bersama ibu dan ke 2 ponakan ku. Akhirnya, dalam kesunyian aku mulai mengali lagi kenangan-kenangan bersama Ayah dan hasilnya aku menangis seorang diri saat seisi rumah tertidur pulas setelah bergelut dalam duka yang dalam sepenjang hari tadi. Mula-mula ku coba mengginggat tempat-tempat yang sangat identik dengan beliau, dan tentu saja kebun kami tercinta, kebanggaan Ayah yang merupakan warisan dari kakek. Beliau bangga bukan karena luas dan suburnya tanah tersebut. Ayah bangga karena saat diwariskan dari ayahnya, kakek ku, tanah tersebut kosong. aku tahu betul sejarah tanah tersebut dari cerita Ayah dan Ibu. Ayah merupakan petani yang minta ampun rajinnya! Saat masih bisanya ayah kerja, aku ingat betul cara Ayah dalam bekerja. Beliau type orang yang Rajin dan tekun dalam menjadi seorang petani! setelah dewasa aku jadi bingung. Kenapa? Karena, bagaimana bisa Ayah yang type orang ‘petani jaman dulu’ bisa memiliki hobi membaca! Di dagau milik Ayah ada begitu banyak koran, majalah, dan buku seperti yang sudah ku tulis sebelumnya. Ayah mengolah tanah tersebut kurang lebih, 20 tahunan mungkin. Hasilnya; s’karang tanah tersebut menjadi cukup terkenal di desa kami karena hasil buminya seperti kelapa dan pohon aren. Belum lagi jika ditanami jagung, cabe, singkong dll. Bukan itu saja, beternak pun sangat cocok di tempat tersebut. Posisinya yang berada di pinggiran sungai besar(sungai ranoako) membuatnya bisa memenuhi kebutuhan ternak seperti sapi&ayam(ternak paling umum di desa kamI) dengan sangat memuaskan. Ayah ku juga type orang pencinta ternak. Seperti kebanyakan petani jaman dulu, ayah punya sapi yang tanpa melebih-lebihkan Sapi ayah benar-benar terkenal di kampung kami! Sapi kami yang paling terkenal itu namanya putra. Sapi jantan yang gedenya minta ampun dan sangat enak dipandang! Ayah itu sangat ahli dalam mengurus sapi. aku rasa, hal tersebut juga ada dalam DNA ku. sapi yang ayah pelihara selain sehat, juga kuat dipake buat Roda Sapi. Kemudian, ada sapi ayah yang lain namanya Angka dan Rok. Itu sepasang sapi jantan dan betina. Masih ada sapi-sapi yang lain tapi lupa namanya. Tapi ada yang paling ku suka, ada sapi jantan yang kalau lagi berhenti makan sering aku tunggangi. Sapinya gak galak, emang sih kebanyakan sapi peliharaan Ayah gak galak. Mungkin karena cara ayah mengurus mereka yang membuat mereka tidak galak. Kasihan Ayah 😥 padahal, aku berencana membeli kembali sapi dan aku ingin ayah yang merawatnya karena aku tahu betul betapa ayah sangat suka sapi. Aku bisa membeli sapi sebelum ini, tapi aku type lebih mementingkan diri sendiri. Aku menyesal.

(Ternyata, ibu belum tidur. Saat menulis ini di luar kamar, ibu menangis lagi. Kasian ibu.)

Aku harus benar-benar berubah. Sudah ku putuskan mengikuti jejak ayah, menjadi petani. Aku yakin, dengan kombinasi DNA ayah dan ibu, aku bisa sukses dalam bertani. Kembali ke Ayah. ayah petani gula aren yang ulet. Sepulang sekolah, ibu akan menyuruhku mengantar bekal ayah. Sebanarnya aku paling males kalo disuruh Mengantar bekal(tentu saja, saat itu aku belum mengerti) di tempat ayah. Sesampai di porno(sebutan untuk tempat mengolah air nira menjadi gula aren), aku langsung mencari sendok dan mangkuk yang terbuat dari batok kelapa, buat apalagi kalau bukan buat minum madu gula arena hehehehe dan sangat sering ayah sudah menyiapkan bete dalam madu nira. Itu rasanya benar-benar delicious! i swear! setelah beberapa jam kemudian madu nira tersebut diangkat kemudian oleh ayah, kadang aku ingin mencoba, tapi oleh beliau tidak di ijinkan. Alasan keselamatan, tentu saja. Jadi aku hanya bisa dengan sendok, jongkok di dekat wajan raksasa(wajan parabola), sambil sesekali mengambil madu nira kental tersebut dengan sendok, enak! Tapi jangan salah, gak semudah itu juga ngambil madu pake sendok. ada batasannya. Jika kebanyakan ayah akan marah, “dari masih madu biasa, madu kental sampe ini somo jadi gula nn nda brenti! Stop, mo dapa panyaki guka nn!” Kali ini alasan kesehatan, tentu saja. Aku ingat juga ingat, saat mengecek bekal tidak ada sayurnya, beliau akan marah! Kemudian, ayah akan menyuruhku mencari sayur paku/boloho(sejenis pakis yang bisa dimakan), dan daun pepaya muda. Kemudian ayah akan beralih mode menjadi chef hehehehe masakan ayah juga enak, ada ciri khususnya! saya ingat betul rasanya bahkan setelah terakhir makan… entahlah, 7-8 tahun yang lalu mungkin. Setelah diaduk kurang lebih 1 jam, madu tersebut berubah menjadi gula merah(gula aren). Kasian sebenarnya ayah waktu itu, bekerja sendiri. Hanya beristirahat jurang lebih 2 jam, pekerjaan yang jujur saja sangat berat harus dilanjutkan kembali. Ayah harus batifar(memanen air nira). Aku kadang membantuny dengan mencari kayu bakar, tapi tidak seberapa. Aku masih terlalu kecil. Aku ingat betul dulu, setelah pekerjaannya sebagai petani gula aren selesai, beliau akan mengajak ku mandi di sungai. Itu salah satu hal yang paling ku sukai! Secara, waktu itu setelah kakak ku james merantau, aku tidak di ijinkan mandi di sungai sendiri. demi keselamatan, begitu menurut ayah. Tentu saja. Dan moment yang benar-benar paling menyenangkan bahkan sampai saat ini tiba juga, guess what? Tentu saja, naik Roda Sapi!!! Jaman aku anak-anak, itu benar-benar saat paling membahagiakan, membanggakan dan paling dinanti!!! Apalagi pas tali sapi(tali kontrol)nya di kasih ayah biar aku yang nyetir, gila!!! Itu deg-degannya minta ampun. Kemudian, ayah akan ada di samping memperhatikan setiap apa yang kulakukan dengan tali tsb. Meskipun saat medannya sulit ayah kembali mengambil alih kemudi tapi tetap saja, aku puas. Oh Ayah, kapan lagi bisa naik roda sapi bersamamu 😥

#lanjut. JUNI 09, 2016 PKL 07:48 PAGI. Kami bertiga, Ibu, aku dan James berkunjung ke makam Ayah. ibu duluan dengan diantar tetangga kami. Saat aku dan james sampai ibu sedang menangis… ah ibu. Aku cepat-cepat menghampiri beliau, mencoba menenangkannya. Setelah beberapa saat, akhirnya ibu berhenti menangis dan mulai bercerita jika semalam adik ku bermimpi. Dalam mimpinya, adik ku melihat Ayah sedang menggenggam Alkitab. Baru saja ayah akan membacanya, dia sudah dibangunkan. kurasa, Tuhan sudah menjawab permintaanku. Kami pun berlalu, meninggalkan makam Ayah. Di perjalanan kami terus membincangkan beliau sambik sesekali kami teralihkan ke pemandangan sepanjang jalan pulang seperti pisang di pinggir jalan yang berbuah 2 sekaligus

 Salah bentuk keindahan alam yang Tuhan telah sediakan untuk kami nikmati.

#lnjut. 07:22, hari yang sama. Saat ini malam ketiga. Seperti sebelumnya, di tanah minahasa ada istilah ‘Malam penghiburan’ untuk keluarga yang berduka. Malam ini, aku tidak menyangka. Malam penghiburan yang tengah berlangsung itu untuk kami yang kehilangan Ayah 😥 puji-pujian demi puji-puji berkumandang. Mulai dari Kaum Bapa, Kolom, kaum Ibu, pemuda&remaja serta sekolah minggu.Dalam puji-pujian tadi, ada nyanyian “Hatiku percaya” yang dibawakan oleh Pemuda&Remaja serta Anak sekolah minggu itu yang kusukai. Mereka terdengar begitu tulus saat menyanyikannya. Dan yang terakhir adalah kami sendiri sekeluarga. Bernyanyi untuk mereka yang telah mencoba memberi penghiburan bagi kami.

#lanjut, Pkl 10:19 hari yang sama. setelah acara malam penghiburan selesai para teman-teman dan beberapa sanak-saudara Ayah yang lain mulai berdatangan. Mereka berkumpul kemudian bernyanyi rohani dalam bahasa tonsawang, bahasa kami orang tombatu/touluaan. terimakasih untuk kedatangan kalian di rumah kami.

Lanjut, 14 juli 2016. It’s a long day, without you my dad.

Iklan

Penulis: ladiesman91

Tidak terlelap ketika memikirkan serta mencari tujuan hidup. Takut pada sebuah akhir yang tidak jelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s