Ketika meniatkan perubahan

31 juli 2016.

Beberapa jam yang lalu, hal yang sangat tidak terduga dan yang selalu ingin saya hindari kembali terjadi, EMOSI yang tidak terkontrol. Pengucapan Syukur atau di Amerika lebih dikenal dengan Thank’s Giving tidak senyaman tahun-tahun sebelumnya untuk saya pribadi. Hari pengucapan syukur dimana semua orang dengan senangnya merayakan sambil keluar rumah, berkunjung ke sanak-saudara hal itu tidak berlaku bagi saya pada thank’s giving kali ini. Saya hanya dirumah tiduran sambil baca buku, main hape, beberapa kali berpindah tempat ke dapur untuk mengisi energi agar bisa kembali melanjutkan aktifitas yang bagi kebanyakan orang merupakan tindakan bodoh di hari Pengucapan syukur. Oke, jadi tepatnya pada sore hari tadi, dimana suhu udara yang sejuk ala pedesaan membuat saya terpancing untuk keluar rumah dan ikut bergabung dalam perayaan tahunan ini. Beberapa rumah berlalu, teman-teman saya sudah terlihat. Berkumpul dengan beberapa orang asing dan ditemani oleh, tentu saja beberapa botol minuman keras, saya pun bergabung. Sebenarnya, saya tidak suka dengan kumpulan-kumpulan semacam ini, kenapa? karena sudah bisa ditebak, pembicaraan yang berlaku sudah sangat tidak asing lagi ditelunga saya. Canda-tawa yang bisa menutupi ketidak tertarikan saya akan percakapan yang sedang berlangsung, tiba-tiba terganggu oleh beberapa kata-kata bernada tinggi, bisa ditebak; akan ada puncak emosi disini. Kemudian, sambil berpura-pura tidak perduli dengan Nada tinggi tersebut, saya melirik arah suara nada tinggi tersebut, sepupu saya_ sebut saja namanya Suep, terlihat sedang membentak satu orang asing didepannya. Beberapa orang termasuk saya mencoba menenangkan sepupu saya ini. Lanjut, saya pun mengalihkan fokus ke salah satu orang disamping saya yang juga masih saudaraan, sial! ternyata semua orang dalam perkumpulan ini saudaraan! Kami bicara soal, kenapa harus ada nada tinggi untuk pembicaraan sepele seperti ini, saya dan dia sama berpendapat jika hal seperti itu jelas tidak bermaanfaat, kontrol emosi tentu diperlukan agar seseorang yang mabuk, tidak akan dikuasai oleh minuman keras yang saya sendiri bukan penggemarnya. Setelah sempat mereda, tanpa diduga, ketegangan tadi berbuah hasil satu bogem dari sepupu saya ke orang asing tersebut. Saya dan beberapa orang ditempat itu mencoba melerai. Melerai dalam hal ini, lebih ke menenangkan sepupu saya suep. Yang coba ditenangkan teratasi, tapi oknum lain_ panggil saja Burce, yang merupakan teman dari orang asing ini, yang juga saudara saya ini_ Nenek kami kakak-adik, mengamuk! Saat itu, saya langsung menahan orang ini. Maksud saya, saya bisa saja membiarkan sepupu saya menghajar orang asing tersebut, tapi kami terlalu berbudaya untuk tindakan bodoh seperti itu. Sepupu saya ini, emosinya ternyata didasarkan pada; beberapa bulan yang lalu, sepupu saya ini nyaris dihajar beberapa pemuda dari desa orang asing tersebut. Beberapa menit berlalu, si Burce tidak mau diam. Mulut terus membacot dengan nada yang jelas bisa berakibat fatal dalam keadaan seperti ini. Melihat tingkah Burce, sayapun berinisiatif menenangkannya tapi sial, orangnya benar-benar keras kepala, akhirnya emosi yang sayapun hanyut oleh iblis hitam yang saya yakini, pasti tertawa terbahak-bahak saat itu. Saya hajar si Burce ini, tetap gak mo diam, saya ditahan sama orang-orang sekitar, sebisa mungkin dijauhkan dari si Burce ini, tapi karena kombinasi gesit dan emosi, saya kembali melepaskan beberapa pukulan yang jelas di bagian kepala. Orangnya bukan tanpa perlawanan, dia masih sempat membalas meskipun saya sendiri tidak kenapa bisa ada pukulan selemah itu. Beberapa pukulan saya langsung berbuah lebam di beberapa bagian wajahnya dan herannya, orang ini benar-benar berbakat dalam memprovokasi. Seperti tidak puas dan minta dihajar lagi, dia terus saja memancing orang agar murka. Saat itu, saya jelas sudah tidak berdaya karena ditahan oleh beberapa Tante saya yang rumahnya tidak jauh dari lokasi. Saudara saya yang lain_ just call him Narto, ikut mengamuk, tapi kali ini saya yakin karena kesal dengan tingkah si Burce ini yang benar-benar tidak bisa ditenangkan. Akhirnya, dia kembali harus dihajar oleh si Narto yang kebetulan orangnya kekar. Sebenarnya, saya jadi kasihan dengan si Burce ini, karena setelah Narto berhenti menghajarnya, Kakak Saya James yang baru tiba, dia bertanya pada saya apa yang terjadi_ lebih ke sifat melindungi, saya bilangnya tidak ada apa-apa. Saya bicara seperti itu karena sebenarnya saya lebih takut jika kakak saya ini yang mengamuk. Tanpa mengindahkan kata-kata saya, James pun langsung mengejar Burce yang tengah ditarik pulang oleh beberapa orang tapi dengan mulutnya yang benar-benar mengesalkan. Dan bisa ditebak, dia kembali dihajar kakak saya James. Dan saat menulis ini, ada kekecewaan dihati saya. Bukan karena si Burce, melainkan betapa saya masih harus banyak belajar tentang pengendalian emosi. Dalam kasus tersebut, saya merasa, si Burce ini terus-terusan dihajar karena emosi saya yang sebelumnya. Seandainya saja saya memberikan respon yang berbeda dengan kata-kata si Burce yang saat itu terdengar mencoba menantang saya, mungkin keadaannya akan berbeda. Benar-benar bodoh!

Iklan

Penulis: ladiesman91

verry simple person, sleep&read... thats me!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s