Tuhan, tentu Kau punya kuasa atas segala hal. Hari ini, kau tahu pergumulanku. Aku tidak menginginkan Hidup ini sudah sejak lama… aku harap Tuhan, saat kubertobat nanti dan mencapai segala yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat-Mu yang kudus, ku mohon; cabut nyawaku. 

Iklan

Sindulang, Manado

Kemudian derita minggu ini berlanjut. Hari ke3 sejak berhenti dari tempat kerjaku. Aku terus saja digrogoti ketidak seimbangan hidup. hari ini 2 jam sebelum cek-out, aku menuju ke pasar45 untuk mencari ransel murah buat bajuku yang sampai saat ini masih harus berjuang tanpa pendamping. Tebak coba? Pasar45 libur serentak! Lebaran. Tidak ada satupun toko/penjual yang buka! benar-benar sial! Belum lagi masalah tersebut terpecahkan, hp yang aku pake rusak tombol powernya! Oh GOD… why? Jika bisa memilih, dari beberapa tahun yang lalu sejak kusadari komplikasi derita bertubi tidak bisa menjauh dariku, ingin berhenti hidup rasanya! Tapi tidak mungkin… aku harus bertanggung jawab pada hidup ini, Hidup yang tidak kuinginkan…

#sunting Pkl 10:28 malam di hari yang sama.Sepertinya, aku memang harus berpasrah diri kali ini. Belum habis emosi hasil rentetan kejadian tidak mengenakan yang terjadi kemarin dan hari ini, eh malah ketamahan satu masalah yang lebih serius; Bapak masuk rs. Kasian bapak, sakit lamanya kambuh lagi, Waktu nelpon tadi ibu ngomong Bapak sedang sampai di infus. aku putuskan, pasrah kali ini. Kalo emang  sudah seperti ini berarti harus dijalani.

Hari ini dan kemarin

Hari ini, entah berapa lama lagi pikiran ku bisa bertahan dari sengatan-sengatan dunia yang telah menahun. Membengkak, di iringi rintihan-rintihan kecil yang sebenarnya merupakan kamuflase dari tubuh agar tetap terlihat ‘baik-baik saja’. Sang penguasa yang beradu argumen denganku tentang hak gaji yang seharusnya kuterima  membuatku memutuskan untuk berhenti menyumbangkan tenaga dan pikiranku pada tempat usaha miliknya. Bodohnya aku, atau memang nasib yang belum bosannya mempermainkanku. Aku ingat rencana awalku; tambah sebulan lagi dan aku punya cukup uang untuk rencana selanjutnya. Tapi sia-sia, semua tak sejalan dengan ide yang telah ku susun untuk terus ‘hidup’ di tengah hutan yang predator utamanya adalah mereka yang punya taring dan gigi tajam.

Disinilah aku sekarang. Di penginapan kecil, berpikir; apa selanjutnya? Di titik ini, aku ingat kembali tentang ‘peranku’. Aku menjalani, tapi tidak menginginkannya. Tapi, bukankah hidup harus seperti itu? Para tokoh utama, menikmati peran mereka. Sementara mereka yang memiki kemiripan denganku tidak berdaya. Memilih sendiri tidak akan mungkin dalam kisah ini. Tapi, masih ada yang patut disyukuri dalam kisah kemarin dan hari ini. Temanku yang sering kujuluki dan saling menjuluki parasit, mau menampungku. Menanpungku dalam hal ini, patungan untuk hidup. Makan dan bayar sewa kamar kos. Dan jika beruntung dia bisa merekomendasikan bekerja di tempat kerjanya. Ah hidup… apa benar hal tersebut patut disyukuri? Maaf, tapi akhir-akhir ini aku semakin waspada. Takut jika nasib dan hidup itu sekongkol membuatku tersenyum kemudian menyumbatku dengan kaktus beracun.

Pikiran

Dari banyak segi tentu tidak membahayakan bagi mereka yang tidak berpikir sampai sejauh itu. Tapi bagi kami yang bisa berpikir sampai sejauh itu, tentu saja merupakan masalah ketika berbulan-bulan bahkan sampai beberapa tahun terperangkap dalam satu keadaan dimana setiap harinya harus melihat, mendengar, memikirkan serta melakukan hal yang sama! Bukan hanya soal membosankan, tapi pada kenyataan hal tersebut membuat otak kami semakin sering berpikir tentang adakah yang bisa mengerti kami? Adakah yang memikirkan situasi ini? Adakah di luar sana yang punya ‘cara berpikir’ seperti yang kami lakukan? Membingungkan, semakin membingungkan. Tak kala segala cara diupayakan untuk menghindari penyakit tersebut mengalami jalan buntu. Kembali lagi bertanya, Nasib… kenapa kau permainkan hidupku? Hak ku! Kau apakan hak ku? Kenapa selalu saja, bukan hak ku yang kudapat! membuat kami berpikir, kenapa sampai saat ini kami belum mengalami masa dimana kami dikurung kemudian diberi julukan ‘belum sembuh. Hal itu semakin membuat kami berpikir keras, lantas apa yang berguna. Meskipun otak kami yang memiliki dosis lebih tinggi hanya bisa melakukannya dalam angan-angan belaka. Adakah yang berpikir sama seperti kami; pikiran yang ada dalam tubuh ini tidak seimbang! Apa gunanya jika bisa memikirkan banyak hal menakjubkan tapi tubuh dengan berjuta keterbatasan bahkan tidak bisa melakukan hal yang mungkin yang telah pikiran sumbangkan? Apa yang salah? Kenapa pikiran(otak) ini harus berada dalam ‘wadah’ yang oleh takdir ditetapkan tidak berdaya? 

Tempat ini…

Langkahku sedikit terhenti. sejak peristiwa beberapa tahun yang lalu di malam saat kami berpisah, sudah cukup lama tidak kudatangi tempat ini. tidak banyak yang berubah, Hanya beberapa cat rumah yang berganti warna serta tanah yang dulunya kosong kini terisi rumah mewah. perumahan ini benar-benar memakan habis waktu ku selama beberapa tahun terakhir. terus memikirkan tempat ini. mata yang bersekongkol dengan pikiran ingin melihat lagi tempat ini, membuat kenangan manis di masa lalu semakin kental dalam pikiran.  Jika kuteruskan, tentu akan terlihat rumah itu. Rumah sewaan yang dihuni para mahasiswa de la sale yang tentu saja saat ini sudah bukan ‘dia’ dan ‘mereka’ Lagi yang menghuni tempat itu. lantas kenapa aku disini? Tapi… jika hanya sampai depan gerbang perumahan, apakah pikiranku tidak akan berkecamuk lagi saat meninggalkan tempat ini? Ahh… benar-benar membuat frustasi memikirkan keinginan yang sebenarnya hanyalah kehendak aneh dari perasaan yang tidak bisa lepas dari emosi di masa lalu. Jalan ini, di masa lalu nyaris setiap minggunya kulewati dengan perasaan aneh, aneh yang menyenangkan. kadang kami saling menggengam tangan satu sama lain. Kadang berkejaran seperti anak kecil. Kadang tanpa tegur-sapa, dengan jarak beberapa meter. Tidak ada yang aneh dengan yang terjadi waktu itu, tapi perasaan waktu itulah yang sangat ingin kurasakan lagi. Perasaan dimana semuanya penuh dengup jantung yang saling berpacu. Sejak berpisah… tidak pernah lagi perasaan itu menghampiri. Lorong pertama ini, sudah diperbaiki ternyata. Dulu… saat melihatnya berjalan di lorong ini, ingin rasanya ku menggendongnya. entahlah, ku rasa saat itu dia sering kesulitan berjalan di lorong ini. jalan beraspal kerikik tajam, tanpa satu pun pohon yang menghalangi peraduan matahari dan tempat terbuka. Bodoh! Deg-degan ini tentu berbeda, itu hanya karena kau sudah lama tidak melihat rumah ini. Berdiri saja dan Tatap sepuas-puasnya! Acuhkan saja mereka yang di dalam, menatap curiga. Mereka mungkin menyangka jika aku ini maling yang sedang memperhatikan keadaan sekitar hahaha tidak, wajah ku tidak cocok menjadi maling. Dengan warna kuning pucatnya, rumah ini tidak berubah. Halamannya masih sama, stok tanamannya yang monoton membuat rumah ini tidak memiliki daya tarik dari tampilan luarnya. Lantas, bagaimana dengan isinya??! Tidak! Jangan berpikir untuk masuk kesana. Pikiran, perasaan, serta tubuhmu pasti mengerti, hal itu tidak mungkin…