‘Memanfaatkan’ Teknologi

“Sebagai suatu kegiatan budaya, teknologi memangsa ilmu dan rekayasa, yang masing-masing memformalkan beberapa aspek kerja keras teknologi.”

Tidak bisa dipungkiri,  zaman s’karang ini sangat tidak mungkin seseorang yang katanya tinggal di peradaban makhluk sosial yang modern jauh dari namanya,  memanfaatkan teknologi.  Lantas,  seperti apa sebenarnya memanfaatkan teknologi itu?  Kemudian apakah semua cara dalam memanfaatkan teknologi itu benar?
Beberapa hari yang lalu, teman saya sempat menunjukan kegiatan chattingnya dengan seorang wanita. Isi chattingnya simple. Yang bikin saya tertarik itu pas ada pesan yang dikirim oleh lawan chattingnya teman saya ini,  teman saya ini nunjukin. Isinya “enak dong kalo dijemput pake pesawat USS Enterprise. Hehehe”. Teman saya nanya,  ini maksudnya apaan ya?  Saya cuman senyam-senyum.  Tiba-tiba teman saya ngomong,  google ah… Selanjutnya,  bisa ditebak. Tiap ada istilah yang tidak dikenali teman saya ini,  langsung di cari artinya di google.  Kemudian saya sempat kagum sekaligus risih.  Kenapa?  Karena pada saat itu juga saya sadar,  saya juga sering melakukan hal tersebut.  Lantas apa yang salah dengan itu?  Jika anda berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan hal itu, maka ada baiknya untuk kita kembali ‘menilik’ hal tersebut.  Pemanfaatan teknologi serta penyedia informasi global yang kita terapkan tidak bisa dibenarkan menurut saya. Kita menjadikan pengetahuan yang ada tidak perlu diingat,  karena segala sesuatu sudah disediakan oleh ‘mesin pencari’. Kita seakan mengerti, seakan pintar,  seakan paham!  tapi ketika koneksi terhadapa mesin pencari(sumber jawaban) tersebut tidak tersedia,  kita hanya bisa diam.  Kita tidak bisa apa-apa!  Ketergantungan kita terhadap jawaban instan yang ‘mereka’ sediakan membuat satu bagian dari ciri-ciri kita manusia menghilang, mengingat.  Kita tidak lagi menggunakan pikiran kita untuk mengingat karena kebiasaan kita daam menggunakan mesin pencari yang semakin menggrogoti.

Hal lain yang mungkin harus kita tilik disini adalah betapa teknologi yang seharusnya dimanfaatkan kini berubah fungsi menjadi pembeda status sosial manusia.  Mungkin bukan hal besar ketika seseorang yang menggunakan merk atau type smartphone tertentu yang ‘mahal’ memandang status mereka lebih ‘berderajat’ ketimbang Mereka yang menggunakan handphone berlebel ‘China’. Pandangan ini mungkin tidak berarti, tapi dengan menanyakannya pada diri sendiri,  apakah ini benar?  Anda akan mengerti,  teknologi bukan untuk membuat manusia jauh dari statusnya sebagai makhluk sosial.  Jangan jadikan teknologi sebagai tembok dari cara kita untuk menjadi manusia,  jangan jadikan teknologi sebagai media untuk menipu sesama manusia,  jangan jadikan teknologi sebagai mesin penjawab otomatis yang kita manusia menjadi malas untuk berusaha berpikir.  Ingat, teknologi ada untuk dimanfaatkan bukan untuk ‘dimanfaatkan’. 

Pembicaraan Yang Buruk!

Saat sedang nongkrong bareng teman, pembicaraan terkadang kurang bermakna jika pengalaman masa lalu tidak diikut sertakan.  Baik itu pengalaman kerja,  asmara,  keluarga etc.  Dalam pembicaraan tersebut,  tanpa kita sadari, sangat sering kita menceritakan beberapa Pengalaman Tidak Baik yang ‘membanggakan’.  Membanggakan?  Iya.  Membanggakan!  Misalnya,  saat remaja kita punya banyak pacar,  seakan-akan hal tersebut bukanlah bentuk lain dari istilah selingkuh.  Atau  Dengan pekerjaan. Kita menceritakan betapa hebatnya kita melakukan tindakan korupsi di tempat kita bekerja tanpa pernah diketahui sang bos.  Kita punya banyak uang hasil korupsi dan bukan jerih payah kita sendiri!  Di keluarga. Kita bercerita betapa kita sangat angkuh,  yang setiap perkataan kita pasti didengarkan oleh anggota Keluarga yang lain. Dan kita semakin bangga karena mereka(anggota keluarga yang lain)  mendengarkan sambil menurut bukan kar’na betapa bijaksananya kita,  tapi kar’na watak kita yang tidak mendengar dan hanya ingin didengar!
Jujur… Kejadian tersebut sangat sering saya lakukan.  Saya menyesal karena sadar,  Dia yang di atas memperhatikan.  Saya kecewa dengan diri sendiri,  betapa hal tersebut yang saya sadari bukanlah p’rilaku yang baik terus saja saya lakukan. Saya yakin Dia tidak suka dengan tindakan saya tersebut,  tapi setiap keadaan itu menghampiri saya merasa tak kuasa menahan keinginan pikiran agar menceritakannya kembali bahkan dengan spesial efek,  melebih-lebihkan! Seburuk itu…
Tapi Puji Tuhan, sedikit demi sedikit saya diubahkan.  Ketukan-ketukan kecil yang Ia berikan terus mengingatkan saya tentang berusaha mengisi keadaan dimana kita bersama teman atau keluarga dengan pembicaraan yang baik, Yang tujuannya untuk kemuliaan Tuhan Allah.  Caranya? Lebih peka mungkin,  karena kehendak bebas kita bukan berarti tidak perduli dengan pandangan sang pencipta terhadapa kita,  umat-Nya.

Jesus Bless us

Real trick “how to move on? “

Oke…  Kali ini postingan gue tidak jauh berbeda dari sebelumnya(kombinasi pengalaman pribadi dalam hal ini masalah umum manusia dan bagaimana mengatasinya). Prepare your self before you read my story and then my opinion version.  Karena mungkin akan sedikit bertolak belakang dengan cara loe pada ngatasin masalah dalam postingan ini. Are you ready?

Readers   : yes i am!

Me            : i cant hear you!

Readers   : of course you cant!

Me            : haha i see…  I see…  This is just article,  only can read 😀

Readers    : 😈

Me             : relex… Jadi, mo dilanjutin atau gimana?

Readers     : (ngangkat AK47)

(membudayakan kekerasan itu gak ada gunanya! Huhht) Jadi sesuai judulnya, real trick : how to move on? Sebelum move on tentu mesti punya love storynya dulu. Oke, udah ciri khas gue ngebagi real story ane pribadi buat ngedukung tulisan gue. Jadi gini, couple years ago sempat punya hubungan sama_

Readers maho : cowo keren?

Me : (ngangkat Magnum) Bangggg!!! Mampus loe!

Cewek kece(readers, jangan ketawa dong!) yang juga first love gue…

Readers : cieciecie… Mimin ngomongin first love 💏

(Serius nih!)Hubungan kami cukup lama, 2 tahunan yang seperti kebanyakan hubungan Remaja beranjak ke level dewasa, sangat dalam dan penuh konflik. And then guenya bego milih berpisah just because a little problem yang sebenarnya gue sendiri juga penyebabnya.

Readers : huuuuuuuuuu

Sorry… Sorry buat cingcing kucing gue yang manis, gue lupa kasih loe makan hari ini. Loe tahu kan ngerampok makanan dimana?
Readers : gubrakkkkkkkk

Oke, gue persingkat : setelah putus, gue anggap kejadian(sakitnya) ini bakalan cepat berlalu. Dan, karena sesuai judulnya, loe pada pasti bisa nebak what happen next?

Readers from mars : si cingcing ketahuan nyuri makanan tetangga?

Me. : 😑

The other readers : tabungan mimin dirampok sama si cingcing?

Me : 😠 udah.. Udah gue jawab sendiri aja_

Readersss : DC Comics batal ngeluarin superhero baru di Justice League?

Me : 😬 bukan! Loe pada ngomongin apa sih?! Agrhhhhh mo di lanjutin gak?

All readers : krikkrik… Krikkrik… Krikkrik…

Me : anyone please, shot my head now!!!! Tega loe pada!! Tega!!!

Readers : kaciaannnn… Ya udah, lanjut min!

Me : Maksa nih??

Readers : (yang maksa siapa?) iya, kita maksa!

Me : oh oke… Kejadian selanjutnya, udah masuk usia 3 tahun dan… Belum mampu sama yang namanya, masa lalu? Masa lalu yang mana? Iya, bener… Itu parah banget! Makin lama makin menyakitkan. Akhirnya gue sadar, hal ini gak bisa didiemin! Tahun pertama, gue udah mulai usaha buat move on. Dan berhubung gue tipe orang yang juga suka sama berbagai bentuk postingan yang mengatasnamakan ‘Trik’ jadi, usaha pertama gue dimulai dari mengikuti trik. Trik dari bloger pertama, bloger ke dua dan seterusnya…. Nyaris 2 ton kelapa muda hijau gue habisin! ngikut trik!!!!

Pembaca : 😑

Me : sorry… Sorry… Agak berlebihan. Sayangnya hasilnya mengecewakan. Tidak satupun dari trik tersebut yang berhasil. Mungkin, karena emang guenya yang takut move on… Pacaran, seminggu… Sebulan… Capek nerusin. Takut lupain mantan! Iyw, aneh… Aneh banget! Hari berganti hari… Bulan berganti bulan… Tahun berganti tahun… Abad berganti__

Readers : lanjut gak nih? (ngangkat parang)

😑 (payah! Padahal gue lagi nyusun efek mendramatisir!) Akhirnya, gue sampai di 1 bulan yang lalu(3 tahunan kemudian), sebelum postingan ini. Jadi gue chatting sama cewek, namanya… Devitta(#nama samaran. Ngomong dari ruangan sebelah. Suara disensor). Waktu itu, kebetulan waktu itu bukan cuma keinginan untuk move on, tapi juga keinginan untuk balik ke ‘Jalan Lurus yang benar. Akhirnya, si Vitta ceritain kisah temennya dia yang udah pacaran 8tahunan terus putus dan dia bisa bangkit(dia gak bunuh diri man!)! Gue sempet pake huruf tinggi(nada tinggi kalo ngomong :D), gue bilang tolong info loe diperbaharui. Kali aja kan si Vitta salah denger! Tapi gak, emang itu tahunnya real!

Readers : bisa aja si Vitta ngareng cerpen!

Me : gue yakinkan disini, si Vitta ini bukan tipe orang kayak gitu! Akhirnya setelah Beberapa huruf tinggi yang saya lontarkan. Saya ngalah trus nangkep beberapa kalimatnya dia image

Kemudian(mungkin agak terdengar lucu). Jika bro ini bisa, gue juga bisa. Jika ikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh, hasilnya Dia bisa pulihkankan, gue juga mau! Dan akhirnya, setelah penuh perjuangan, penyesalan serta rasa malu pada-Nya, tahapan awal ini gue langsung diberi hadiah oleh-Nya, puji Tuhan… Belenggu sakit hati serta perasaan tidak bahagia yang mengikat gue selama hampir 4 tahun lepas sudah. Yang ada saat ini, saat kata demi kata dalam postingan ini terurai. Senyum bahagia, senyum damai sejahtera! Trimakasih Banyak Tuhan Yesus, gue mengucap syukur banget untuk pembebasan yang Kau berikan!

Guys… Banyak ‘Trik’ yang udah gue coba, tapi hasilnya… Tidak ada satupun yang berhasil. Kemudian, hal yang saya tuliskan tadi terjadi. Kita hanya perlu meminta, Tuhan Yesus mampu ubahkan… Semoga, postingan gue kali ini bisa bermanfaat buat loe pada 🙂 Gbu